Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2010

KIAT SUKSES IBADAH PUASA
Oleh Drs. Ahmad Yani


Ketika Ramadhan akan tiba, sikap yang harus diperlihatkan oleh seorang muslim adalah rasa gembira
sehingga dia seperti tidak sabar menunggu kedatangan Ramadhan yang lama dirindukannya. Itu sebabnya,
kedatangan Ramadhan harus kita sambut dengan ucapan marhaban ya Ramadhan. Marhaban itu sendiri berasal dari
kata rahb yang artinya luas atau lapang, ini artinya hati, jiwa dan dada seorang muslim akan diluaskan dan
dilapangkan agar Ramadhan masuk kedalam jiwanya dengan leluasa.
Pada saatnya Ramadhan tiba dan kita berada di dalamnya, maka dari sekarang tekad kita adalah akan
mengoptimalkan kehadiran Ramadhan itu untuk memperkokoh ketaqwaan kepada Allah Swt dalam arti yang seluasluasnya.

PENGERTIAN.
Secara harfiyah, puasa artinya menahan, yakni menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa
dan mengurangi nilainya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Sedangkan Ramadhan secara harfiyah artinya
membakar dan mengasah. Yang dimaksud adalah membakar dosa sehingga dengan puasa yang sebaik-baiknya,
dosa-dosa seorang muslim akan dibakar oleh Allah dan setelah Ramadhan insya Allah dia akan kembali kepada
fitrah atau kesuciannya sehinga seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya, yakni dalam keadaan tidak berdosa.
Adapun yang dimaksud dengan mengasah adalah mengasah dan mengasuh jiwa, sehingga seorang yang
berpuasa akan memiliki ketajaman jiwa yang membuatnya cepat, mudah dan mampu menangkap isyarat-isyarat
spiritual, jiwanya menjadi kaya dan tidak didominasi ilagi oleh sifat sombong dan sifat-sifat buruk lainnya.

TUJUAN.

Tujuan utama dari puasa adalah memantapkan keimanan kepada Allah Swt sehingga menjelma keimanan itu
menjadi ketaqwaan. Ini dikemukakan Allah dalam firman-Nya yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan
atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa (QS 2:183).
Manakala target dari ibadah puasa ini dapat dicapai, maka puasa akan membuat kita menjadi orang yang
memiliki tiga hal. Pertama, mencegah diri dari segala bentuk dusta sebab dalam hadits riwayat Bukhari, Muslim dan
Ahmad dinyatakan bahwa Allah Swt tidak menerima puasa seseorang yang tidak meninggalkan perkataan dusta,
hadits tersebut artinya: Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang keji (dusta) dan melakukan kejahatan, Allah
tidak akan menerima puasanya, sekalipun ia telah meninggalkan makan dan minum.
Kedua, memiliki benteng pertahanan rohani yang kuat sehingga dia menjadi orang yang mampu menjaga dan
mencegah dirinya dari dosa, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Puasa adalah perisai dari api neraka seperti perisainya
seseorang diantara kamu dalam perang (HR. Ahmad, Nasa’I, Ibnu Majah, Ibnu Hibban).
Ketiga, selalu terangsang untuk berbuat baik, karena ibadah Ramadhan memang selalu mendidik seseorang
untuk melakukan kebaikan, baik terhadap Allah Swt maupun terhadap sesama manusia.
Disamping itu, kalau kita membaca rangkaian ayat-ayat berikutnya dari surat Al Baqarah: 184-188, bisa kita
ambil beberapa kesimpulan tentang tujuan-tujuan lain dari ibadah Ramadhan, yaitu: Pertama, memperkokoh
kedekatan kita kepada Al-Qur’an sehingga kita selalu berusaha bisa membaca, membaca, memahami dan
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, memperkokoh kedekatan hubungan kepada Allah Swt
sehingga dengan hubungan yang dekat itu, seorang muslim tidak berani menyimpang dari ketentuan-ketentuan
Allah. Ketiga, menyadari akan pentingnya berdo’a kepada Allah karena kita menyadari sebagai makhluk yang lemah
dan amat membutuhkan pertolongan Allah. Keempat, menajamkan hati atau jiwa manusia sehingga selalu mampu
membedakan antara yang haq dan yang bathil serta sensitif terhadapnya. Kelima, menyadari pentingnya kebersamaan
dengan sesama muslim, karena dengan puasa kita dapat membayangkan bahkan dapat merasakan bagaimana
penderitaan mereka yang susah sehingga kita menyadari keharusan bersatu dan tolong menolong.

HIKMAH.
Dari tujuan yang telah diutarakan, nampak sekali betapa besar hikmah ibadah Ramadhan itu. Namun
manakala kita ingin sederhanakan, sekurang-kurangnya ada tiga hikmah ibadah Ramadhan. Pertama, membersihkan
hati dan jiwa manusia dari segala dosa dan sifat-sifat tercela. Kedua, memperkokoh hubungan dengan Allah Swt
sehingga dengan dekatnya hubungan seorang muslim kepada Allah, dia akan selalu berusaha menjalani kehidupan
yang sesuai dengan ketentuasn-Nya. Ketiga, memperkokoh hubungan dengan sesama, khususnya dengan sesama
muslim sehingga potensi besar yang dimiliki seorang muslim akan menjadi sebuah kekuatan umat yang besar.

KUNCI SUKSES.

Ibadah puasa khususnya dan ibadah Ramadhan pada umumnya tentu ingin kita laksanakan dengan sebaikbaiknya
agar tujuan dan hikmahnya bisa kita raih. Oleh karena itu, menjadi keharusan kita bersama untuk
14
mengoptimalkan ibadah Ramadhan yang penuh dengan keberkahan untuk memperkokoh gairah keislaman pada diri
kita, keluarga maupun masyarakat.
Dalam kaitan ini, kesuksesan bisa kita raih manakala mengupayakan beberapa langkah: Pertama, melakukan
persiapan secara matang, baik persiapan jiwa agar kita memiliki kesiapan mental untuk menjalankan ibadah
Ramadhan hingga kita senang melaksanakannya, persiapan akal dengan memahami kembali ketentuan fiqih
Ramadhan dan hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya, maupun persiapan jasmani dengan selalu menjaga
dan meningkatkan kesehatannya serta persiapan aktivitas pendukung suksesnya ibadah Ramadhan dengan berbagai
aktivitas da’wah yang bermanfaat seperti pesantren Ramadhan, ceramah dan dialog Ramadhan dengan tema-tema
yang disusun dengan baik, dll.
Kedua, melaksanakan persiapan yang sudah dicanangkan dengan matang pada saat pelaksanaan ibadah
Ramadhan sehingga Ramadhan bisa kita hidupkan dengan melaksanakan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya, baik
dari sisi fiqih maupun nilai-nilai akhlak yang terkandung di dalamnya dan aktivitas pendukungnya.
Ketiga, menindaklanjuti keberhasilan ibadah Ramadhan dengan sikap, prilaku yang lebih islami dan
mengembangkan aktivitas keislaman yang lebih baik sesudah Ramadhan berakhir sehingga ibadah Ramadhan
memberi bekas dan pengaruh yang positif, tidak hanya bagi individu tapi juga bagi keluarga dan masyarakat.
Dalam konteks kehidupan masyarakat dan bangsa kita yang amat memprihatinkan bila ditinjau dari berbagai
aspek, maka Ramadhan tahun ini merupakan momentum yang amat baik untuk memulai langkah-langkah perbaikan
kearah yang diridai Allah Swt.
Akhirnya, kita sambut Ramadhan dengan penuh kegembiraan, sebab dengan gembira ibadah yang berat ini
akan menjadi terasa ringan, sedang tanpa kegembiraan, ibadah Ramadhan yang memang sebenarnya berat akan
terasa lebih berat lagi.
Semoga kita dapat memantapkan keislaman kita masing-masing melalui ibadah Ramadhan tahun ini.

Iklan

Read Full Post »

Sebagian besar maksiat itu terjadi pada seorang hamba melalui empat pintu. Barang siapa yang bisa menjaga empat pintu tesebut maka berarti dia telah menyelamatkan agamanya. Adapun empat pintu yang dimaksud adalah :
1. Al-Lahazhat (Pandangan pertama)

Yang satu ini bisa dikatakan sebagai “provokator” syahwat atau utusan syahwat. Oleh karenanya, menjaga pandangan merupakan pokok dalam menjaga kemaluan, maka barang siapa yang melepaskan pandangannya tanpa kendali niscaya dia akan menjerumuskan dirinya sendiri pada jurang kebinasaan. Di dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Rasulullah : “Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barang siapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai hari kiamat”.
Pandangan adalah asal muasal seluruh musibah yang menimpa manusia. Sebab, pandangan itu akan melahirkan lintasan dalam benak, kemudian lintasan itu akan melahirkan pikiran, dan pikiran itulah yang melairkan syahwat. dan dari syahwat itu akan timbullah keinginan. Kemudian keinginan itu menjadi kuat dan berubah menjadi niat yang bulat. Akhirnya, apa yang tadinya hanya melintas dalam pikiran menjadi kenyataan dan itu pasti akan terjadi selama tidak ada yang menghalanginya. Oleh karenanya, dikatakan oleh sebagian ahli hikmah, bahwa: “Bersabar dalam menahan pandangan mata (bebannya) adalah lebih ringan dibanding harus menanggung beban penderitaan yang ditimbulkannya”.
Pandangan yang dilepaskan begitu saja dapat menimbulkan perasaan gundah, tidak tenang dan hati yang terasa dipanas-panasi. Pandangan yang dilakukan oleh seseorang itu merupakan anak panah yang tidak pernah mengena pada sasaran yang dipandang, sementara anak panah itu benar-benar mengena di hati orang yang memandang. Padahal, satu pandangan yang dilarang itu dapat melukai hati dan dengan pandangan yang baru berarti dia menoreh luka baru di atas luka lama. Namu ternyata derita yang ditimbulkan oleh luka-luka itu tak bisa mencegahnya untuk kembali terus-menerus melakukannya.
2. Al-Khatharat (Pikiran yang melintas di benak)

Adapun “Al-Khatharat” (pikiran yang melintas di benak) maka urusannya lebih sulit. Di sinilah tempat dimulainya aktifitas yang baik ataupun yang buruk. Dari sinilah lahirnya keinginan (untuk melakukan sesuatu) yang akhirnya berubah menjadi tekad yang bulat. Maka, barang siapa yang mampu mengendalikan pikiran-pikiran yang melintas di benaknya, niscaya dia akan mampu mengendalikan diri dan menundukkan nafsunya. Namun orang yang tidak bisa mengendalikan pikiran-pikirannya, maka hawa nafsunyalah yang berbalik menguasainya. Dan barang siapa yang menganggap remeh pikiran-pikiran yang melintas di benaknya, maka tanpa dia inginkan, akan menyeretnya pada kebinasaan. Pikiran-pikiran itu akan terus melintas di benak dan di dalam hatinya, sehingga akhirnya akan menjadi angan-angan tanpa makna (palsu).
Angan-angan adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi manusia. Dia lahir dari ketidakmampuan sekaligus kemalasan, dan melahirkan sikap lalai yang selanjutnya penderitaan dan penyesalan. Orang yang hanya berangan-angan disebabkan karena dia tidak berhasil mendapatkan realita yang diinginkan sebagai pelampiasannya, maka dia merubah gambaran realita yang dia inginkan itu ke dalam hatinya, dia akan mendekap dan memeluknya erat-erat. Selanjutnya dia akan merasa puas dengan gambaran-gambaran palsu yang dikhayalkan oleh pikirannya.
Padahal pikiran-pikiran serta ide-ide orang yang berakal itu tidak akan keluar dari hal-hal yang paling mulia dan paling bermanfaat, dan orientasinya hanya untuk Allah SWT dan kebahagiaan di alam akhirat nanti.
3. Al-Lafazhat (Kata-kata atau Ucapan)
Adapun tentang Al-Lafazhat (kata-kata atau ucapan), maka menjaga hal yang satu ini adalah dengan cara mencegah keluarnya ucapan yang tidak bermanfaat dan tidak bernilai dari lidah. Misalnya dengan tidak berbicara kecuali dalam hal yang diharapkan bisa memberikan keuntungan dan tambahan menyangkut masalah keagamaannya. Bila ingin bebicara, hendaklah seseorang melihat dulu apakah ada manfaat dan keuntungannya atau tidak? Bila tidak ada keuntungannya, dia tahan lidahnya untuk berbicara. Dan bila dimungkinkan ada keuntungannya, dia melihat lagi apakah ada kata-kata yang lebih menguntungkan lagi dari kata-kata tersebut? Bila memang ada, dia tidak akan menyia-nyiakannya.
Sahabat Mu’adz bin Jabar pernah bertanya kepada Nabi SAW tentang amal apa yang dapat memasukkannya ke dalam Jannah dan menjauhkannya dari api Neraka. Lalu Nabi SAW memberitahukan tentang pokok, tiang dan puncak yang paling tinggi dari amal tersebut, setelah itu beliau bersabda : “Bagaimana kalau aku beritahu pada kalian inti dari semua itu?” Dia berkata: “Ya, Wahai Rasulullah”. Lalu Nabi SAW memegang lidah beliau sendiri dan berkata: “Jagalah olehmu yang satu ini”. Maka Mu’adz berkata: “Adakah kita bisa disiksa disebabkan apa yang kita ucapkan?” Beliau menjawab : “Ibumu kehilangan engkau ya Mu’adz, tidaklah yang dapat menyungkurkan banyak manusia diatas wajah mereka (ke Neraka) kecuali hasil (ucapan) lidah-lidah mereka?” At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”.
Sungguh mengherankan, banyak orang yang merasa mudah dalam menjaga dirinya dari makanan yang haram, perbuatan aniaya, zina, mencuri, minum-minuman keras serta melihat pada apa yang diharamkan dan lain sebagainya, namun merasa kesulitan dalam mengawasi gerak lidahnya, sampai-sampai orang yang dikenal punya pemahaman agama, dikenal dengan kesuhudan dan ibadahnya pun, juga masih berbicara dengan kalimat-kalimat yang mengundang kemurkaan Allah SWT tanpa dia sadari, seperti berdusta, memfitnah, dan lain-lain.
Para ulama salaf sebagian mereka ada yang memperhitungkan dirinya, walau hanya sekedar mengucapkan: “Hari ini panas dan hari ini dingin”. seorang sahabat ada yang berkata pada pembantunya: “Tolong ambilkan kain untuk kita bermain-main”. Lalu dia berkata. “Astaghfirullah, aku tidak pernah mengucapkan kata-kata kecuali aku pasti mengendalikan dan mengekangnya, kata-kata yang tadi aku katakan keluar dari lidahku
tanpa kendali dan tanpa kekang….”Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah memegang lidahnya dan berkata: “Inilah yang memasukkan aku ke dalam berbagai masalah”.
Anggota tubuh manusia yang paling mudah digerakkan adalah lidah, dan dia juga yang paling berbahaya pada manusia itu sendiri…. Seharusnya kita selalu memperhatikan sebuah hadits Nabi dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir bila dia menyaksikan suatu perkara maka hendaklah dia mengatakan yang baik-baik atau diam saja”.
4. Al-Khathawat (Langkah Nyata Untuk sebuah Perbuatan)
Adapun tentang Al-Khathawat (langkah nyata untuk sebuah perbuatan), hal ini bisa dicegah dengan komitmen seorang hamba untuk tidak menggerakkan kakinya kecuali untuk perbuatan yang bisa diharapkan mendatangkan pahala-Nya, bila ternyata langkah kakinya itu tidak akan menambah pahala, maka mengurungkan langkah tersebut tentu lebih baik baginya. Dan sebenarnya bisa saja seseorang memperoleh pahala dari setiap perbuatan mubah yamg dilakukannya dengan cara meniatkannya untuk Allah SWT, dengan demikian maka Insya Allah seluruh langkahnya akan bernilai ibadah.

Read Full Post »

Hujan

hujan lebar jatuh di daerah ketapang sekarang….
saya sedang bekerja di kantor Dinkes untuk menyelesaikan RKM desa binaan program CWSH.
luar biasa karunia Allah untuk menurunkan hujan …
tanah menjadi basah…..tanaman menjadi segar kembali…dan udaranya menjadi sejuk…
Allah sangat sayang makhluk2nya yang ada dibumi…. semua makhluk membutuhkan air…
manusia dan hewan untuk minum…tumbuh2an untuk terus tumbuh..
apa jadinya jika tidak ada hujan…..maka kehidupan didunia tidak akan ada…
tapi, banyak manusia yang kesal jika turun hujan…
itu ia nyatakan lewan mulutnya sendiri…..
yah…hujan….cucian tidak kering….
yah…hujan…jalan-jalan sama teman tidak jadi….
emanglah…hujan….bikin sakit hati…..kamek jadi dak bise kekantor….
dan celoteh-celoteh lainnya…..
seolah-olah terjadi kesalahan ketika Allah menurunkan hujan….
padahal …….
nikmat manalagi yang kau dustakan…..?
ini pelajaran untuk qt yang asal…dalam berucap….
sebaiknya kita menghindari ucapan2 yang tidak suka terhadap keputusan Allah…
atau Allah akan menarik semua nikmat yang telah Ia berikan dan encebloskan qt kedalam neraka….
demikian aja catatannya…mudah2an bermanfaat….
(maaf baru belajar….)

Read Full Post »

CWSH merupakan kegiatan kemitraan antara Pemerintah dan Masyarakat yang dilaksanakan secara lintas sektor dan lintas program. Dalam pelaksanaan kegiatan mengedepankan pemberdayaan masyarakat, dan melibatkan masyarakat sejak pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pengoperasian, dan monitoring-evaluasi.
Akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi dasar masih belum seperti yang diharapkan. Data tahun 2002 menunjukan bahwa prosentasi rumah tangga yang mempunyai akses terhadap air yang layak dikonsumsi baru mencapai 50% dan akses masyarakat terhadap sanitasi dasar baru mencapai 63,5%. Kondisi yang lebih buruk lagi dialami oleh masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan. Salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat adalah kondisi lingkungan yang tercermin antara lain akses masyarakat terhadap air minum dan sanitasi dasar.
Pemerintah Indonesia ikut menandatangani komitmen global untuk mewujudkan tujuan dan target MDGs (Millennium Development Goals), yakni mengurangi separuh dari proporsi penduduk dunia yang tidak memiliki akses terhadap air minum dan sanitasi dasar pada tahun 2015.
Pemerintah RI melalui Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (Tahun 2004 – 2009). Dalam Program Lingkungan Sehat pemerintah bermaksud untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup yang lebih sehat, melalui beberapa pokok kegiatan antara lain :
–>Penyediaan sarana air minum dan sanitasi dasar;
–>Pemeliharaan dan pengawasan kualitas lingkungan;
–>Pengendalian dampak resiko pencemaran lingkungan; dan
–>Pengembangan wilayah sehat.
Guna meningkatkan cakupan layanan air minum dan sanitasi dasar Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan Asian Development Bank ( ADB ) untuk melaksanakan kegiatan pembangunan sarana air minum dan sanitasi bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang tertuang dalam proyek Community Water Services and Health (CWSH).
CWSH merupakan kegiatan kemitraan antara Pemerintah dan Masyarakat yang dilaksanakan secara lintas sektor dan lintas program. Dalam pelaksanaan kegiatan mengedepankan pemberdayaan masyarakat, dan melibatkan masyarakat sejak pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pengoperasian, dan monitoring-evaluasi.

Tujuan
Kegiatan CWSH bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat yang berpenghasilan rendah melalui:
Perubahan perilaku;
• Perubahan perilaku;
• Pemberdayaan masyarakat;
• Penyediaan air bersih dan sanitasi yang aman, cukup dan mudah dijangkau;
• Kesinambungan dan efektivitas program melalui partisipasi masyarakat.

Sasaran
Kegiatan ini ditujukan bagi masyarakat desa yang belum mempunyai akses terhadap air minum dan sarana sanitasi, diutamakan bagi yang berpenghasilan rendah.
Kriteria yang digunakan untuk melakukan seleksi desa yang akan dilibatkan dalam kegiatan ini adalah :
• Desa dengan indeks kemiskinan tinggi
• Kasus penyakit yang ditularkan melalui air (water-borne) tinggi.
• Akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi dasar rendah
• Adanya potensi sumber air
• Tidak adanya proyek sejenis
• Kesanggupan masyarakat berkontribusi

Strategi Kebijakan
• Program yang menitikberatkan pada pencegahan penyakit.
• Desentralisasi pengelolaan program oleh kabupaten.
• Tanggap terhadap kebutuhan dasar masyarakat yang belum terlayani.
• Perencanaan dari bawah yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
• Pengelolaan program secara efisien, berkualitas dan pemerataan pelayanan.
• Air bersih sebagai komoditas ekonomi dan sosial.

Paradikma Pelaksanaan Kegiatan
• Tujuan program tidak hanya difokuskan untuk meningkatkan cakupan air minum dan sanitasi dasar tetapi meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup.
• Masyarakat sebagai pelaku utama yang didampingi oleh fasilitator.
• Strategi kemitraan antara pemerintah, masyarakat dan swasta.
• Penguatan program kesehatan sejak perencanaan, pelaksanaan, paska konstruksi dan paska proyek.
• Penguatan kegiatan lintas sektor dan lintas program.

Karakteristik
• Kesetaraan gender; dalam setiap tahapan kegiatan wajib melibatkan kelompok yang termarjinalisasi seperti kelompok perempuan, kelompok masyarakat miskin, kelompok anak.
• Masyarakat sebagai penerima manfaat kegiatan diwajibkan menyediakan kontribusi pendanaan minimal 20% dari nilai kegiatan yang tertuang dalam Rencana Kerja Masyarakat (RKM) dengan perincian 4 % uang tunai dan 16 % inkind seperti bahan lokal dan tenaga.
• Penyaluran dana hibah desa dilakukan secara langsung ke rekening masyarakat. Pengelolaan keuangan dilakukan oleh masyarakat secara terbuka dengan cara menyusun laporan keuangan ditempelkan pada Papan Informasi sehingga mudah dilihat oleh masyarakat.
• Menempatkan masyarakat sebagai pemeran utama kegiatan, mulai dari pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan, pengoperasian dan pemeliharaan sarana serta monitoring dan evaluasi.
• Mengedepankan pendekatan pemberdayaan masyarakat secara partisipatif dengan menggunakan metoda MPA/ PHAST. Metoda ini memfokuskan pada pelibatan seluruh lapisan masyarakat (laki-laki-perempuan, kaya-miskin) dalam berbagai kegiatan, mulai dari pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan, pengoperasian dan pemeliharaan sarana serta monitoring dan evaluasi.
Dalam proses penyusunan rencana dan pelaksanaan kegiatan harus peka terhadap kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Read Full Post »